JIKA melihat perjalanan Persib Bandung selama mengikuti Kompetisi Sepak Bola Liga Indonesia yang dimulai sejak tahun 1994 sampai sekarang tahun 2005, boleh jadi Liga Indonesia I yang digelar tahun 1994-1995, merupakan tahun prestasi bagi Persib.
Pada LI perdana yang merupakan kompetisi gabungan dari peserta asal tim perserikatan dengan Galatama tersebut, Persib berhasil menorehkan tinta emas sebagai tim pertama yang memboyong Piala Presiden. Bermodalkan materi pemain tim juara kompetisi perserikatan tahun 1990, Persib yang dilatih Indra M. Thohir dan diperkuat para pemain lokal asal Bandung dan Jabar mampu menghempaskan tim asal Galatama Petrokimia Gresik yang saat itu telah dihuni tiga pemain asing Jacksen F. Tiago, Carlos de Mello, dan kiper Darryl Sinerine.
Pada partai final yang berlangsung 30 Juli 1995 di Stadion Utama Senayan Jakarta (kini Stadion Gelora Bung Karno), gol tunggal Sutiono membungkam perlawanan Petrokimia 1-0, untuk memastikan gelar juara. Saat itu Persib sangat produktif dalam mencetak gol. Dari 32 pertandingan selama putaran pertama dan kedua, mampu mengumpulkan 54 gol dan kemasukan hanya 15 gol.
Sebagai juara, Persib memiliki tiket untuk tampil diajang internasional mewakili Indonesia dalam Piala Champions Asia yang diikuti juara-juara liga di negara Asia. Prestasi Persib sebagai debutan ternyata tidak memalukan.
Menumbangkan juara Liga Thailand Bangkok Bank 2-0 di Bangkok dan kalah 1-2 di Bandung. Kemudian mengalahkan juara liga Filipina Pasar City 2-1 di Bandung dan 3-1 di Manila. Hasil ini membawa Persib lolos ke peremfat final.
Sayangnya meski tampil di depan dukungan ribuan bobotoh di Stadion Siliwangi, Ajat Sudrajat cs. takluk 1-3 dari juara liga Jepang Verdy Kawasaki, tumbang 2-3 dari juara bertahan Thai Farmers Bank dan takluk 1-4 dari juara liga Korea Selatan Ilhwan Chunwa. Meski gagal ke semifinal, pelatih Indra Thohir mendapat penghargaan dari AFC sebagai pelatih terbaik Asia.
Catatan sejarah sepanjang tahun 1994-1995 ini, bisa jadi bakal sulit untuk diulangi lagi. Entah kapan lagi Persib bisa menunjukkan keperkasaannya di Liga Indonesia. Hingga Liga Indonesia X, Persib tidak pernah lagi juara. Bahkan saat itu Persib sudah menggunakan para pemain asing yang berasal dari Cile, Paraguay, Uruguay dan Argentina, namun tetap saja tidak bisa menyamai prestasi Robby Darwis dkk.
Setelah juara LI I, prestasi Persib cenderung turun. Pada empat kali Liga yaitu LI V tahun 1998/1999, LI VI (1999/2000), LI VIII 2001/2002 dan LI IX (2002/2003) Persib nyaris jatuh ke jurang degradasi.
Pada LI V, Persib lolos dari degradasi setelah pada pertandingan terakhir mengalahkan tuan rumah Persita Tangerang di Stadion Benteng Tangerang. Persita yang akhirnya terjun ke jurang degragasi. Begitu juga pada LI IX, Persib harus bertanding di babak play off bersama Persela Lamongan, PSIM Yogyakarta, dan Perseden Denpasar. Untung Persib kembali lolos dari degradasi setelah mengalahkan Persela dan PSIM dengan angka 1-0, kemudian imbang 4-4 dengan Perseden. Pada LI X Persib hanya menempati posisi keenam klasemen.
Dari: pikiran rakyat
Senin, 21 Desember 2009
Lahir Sebagai Alat Perjuangan
WAKTU tampaknya berlalu sangat cepat hingga tidak terasa, tim kebanggaan masyarakat Bandung dan Jawa Barat, yaitu Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung, yang lebih dikenal dengan nama Persib, kini sudah memasuki usia 72 tahun pada 14 Maret 2005 lalu.
Menurut buku “Sejarah Lintasan Persib” yang dibuat oleh R. Risnandar Soendoro, lahir dan perkembangan Persib sendiri, tidak lepas dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Persib lahir pada 1933, di tengah rasa nasionalisme untuk memerdekakan diri dari cengkraman penjajahan Belanda. Persib menjadi salah satu akar perjuangan rakyat Bandung dan Jawa Barat ketika itu. Hingga sangatlah wajar, jika Persib menjadi bagian terpisahkan dari masyarakat Bandung dan Jawa Barat.
Sebelum bernama Persib, di Bandung berdiri Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB) yang berdiri pada 1923. BIVB merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum naisonalis. BIVB biasanya melakukan pertandingan di lapangan Tegallega.
Namun, BIVB kemudian menghilang dan muncullah dua perkumpulan lain, yaitu Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung (PSIB) dan National Voetbal Bond (NVB).
Pada 14 Maret 1933, kedua perkumpulan ini sepakat bergabung dan lahirkan Persib. Saat itu pula, di Bandung juga berdiri perkumpulan sepak bola yang dimotori orang-orang Belanda yaitu Voetbal Bond Bandung & Omstreken (VBBO). Masyarakat juga lebih senang menonton pertandingan VBBO karena pertandingan biasanya digelar di dalam kota seperti UNI dan SIDOLIG.
Namun, perkumpulan yang sebelumnya berada di bawah VBBO, antara lain UNI dan SIDOLIG, kemudian bergabung dengan Persib. Bahkan, VBBO kemudian menyerahkan lapangan yang biasa mereka gunakan yaitu lapangan UNI, SIDOLIG (kini Stadion Persib), dan SPARTA (Stadion Siliwangi).
Saat pendudukan Jepang, Persib berganti nama menjadi Rengo Tai Iku Kai. Rongrongan kembali datang ketika pasukan Belanda yang kembali ke Indonesia, berupaya untuk kembali menghidupkan VBBO. Namun, Persib berdiri kokoh atas prakarsa dr. Musa, Munadi, H. Alexa, dan R. Sugeng.
Menurut buku “Sejarah Lintasan Persib” yang dibuat oleh R. Risnandar Soendoro, lahir dan perkembangan Persib sendiri, tidak lepas dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Persib lahir pada 1933, di tengah rasa nasionalisme untuk memerdekakan diri dari cengkraman penjajahan Belanda. Persib menjadi salah satu akar perjuangan rakyat Bandung dan Jawa Barat ketika itu. Hingga sangatlah wajar, jika Persib menjadi bagian terpisahkan dari masyarakat Bandung dan Jawa Barat.
Sebelum bernama Persib, di Bandung berdiri Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB) yang berdiri pada 1923. BIVB merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum naisonalis. BIVB biasanya melakukan pertandingan di lapangan Tegallega.
Namun, BIVB kemudian menghilang dan muncullah dua perkumpulan lain, yaitu Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung (PSIB) dan National Voetbal Bond (NVB).
Pada 14 Maret 1933, kedua perkumpulan ini sepakat bergabung dan lahirkan Persib. Saat itu pula, di Bandung juga berdiri perkumpulan sepak bola yang dimotori orang-orang Belanda yaitu Voetbal Bond Bandung & Omstreken (VBBO). Masyarakat juga lebih senang menonton pertandingan VBBO karena pertandingan biasanya digelar di dalam kota seperti UNI dan SIDOLIG.
Namun, perkumpulan yang sebelumnya berada di bawah VBBO, antara lain UNI dan SIDOLIG, kemudian bergabung dengan Persib. Bahkan, VBBO kemudian menyerahkan lapangan yang biasa mereka gunakan yaitu lapangan UNI, SIDOLIG (kini Stadion Persib), dan SPARTA (Stadion Siliwangi).
Saat pendudukan Jepang, Persib berganti nama menjadi Rengo Tai Iku Kai. Rongrongan kembali datang ketika pasukan Belanda yang kembali ke Indonesia, berupaya untuk kembali menghidupkan VBBO. Namun, Persib berdiri kokoh atas prakarsa dr. Musa, Munadi, H. Alexa, dan R. Sugeng.
Persib kemudian bisa bertahan dan eksis hingga sekarang ini, bahkan menjadi salah satu kekuatan sepak bola nasional. Semoga saja, Persib tetap langgeng dan terus mencetak prestasi. Amin.
DARI :PIKIRAN RAKYAT
BOBOTOH PERSIB TAUN 1960-an
Jadi ”Bobotoh” Persib Tahun 1960-an
bobotoh Persib telah ada sejak dulu. Paling tidak, saya mengalami sendiri akhir tahun 1959 hingga 1964. Ketika duduk di bangku Sekolah Rakyat (SR, sekarang SD) kelas 5 hingga SMP kelas 3 di Kota Kecamatan Limbangan, Garut. Setelah melanjutkan sekolah di Garut Kota (SGA, kemudian berubah nama menjadi SPG), kegiatan menjadi bobotoh Persib terhenti. Soalnya, bekal dari orang tua paspasan sekali. Tak dapat menyisihkan buat ongkos nonton Persib bertanding di Bandung.
Kalau masih di kampung, sekadar buat membeli karcis, dapat mencari ke sana kemari. Mulai dari menjual dua tiga ikat kayu bakar, hingga menjual telur ayam atau bebek. Bahkan kadang-kadang isi sarang ayam tetangga pun ikut terkuras. Maklum, usia sedang nakal-nakalnya.
Untuk ongkos kendaraan Limbangan-Bandung, tak terlalu sulit. Pergi ke Bandung, numpang truk pengangkut minyak kelapa dari Ciamis. Setiap hari Ahad pkl.11.00 truk itu menurunkan muatan drum minyak di beberapa toko dekat pasar. Jika sudah selesai, saya dan beberapa kawan seusia, segera meloncat diam-diam. Bersembunyi di sela-sela deretan drum. Sopir dan kernek baru tahu ada “penumpang gelap” jika sudah sampai ke Bandung. Atau bahkan mereka tidak tahu sama sekali. Sebab begitu truk memperlambat lajunya dan akan berhenti di kawasan Cicadas, kami sudah melenggang di trotoar.
Dari Cicadas, jalan kaki ke lapang Sidolig atau Stadion Siliwangi. Bubar sore menjelang magrib, jalan kaki lagi ke Cicadas. Menuju rumah seorang kerabat. Ikut nginap di sana. Pulang ke Limbangan esok hari (Senin pagi), naik kereta api dari Kiaracondong. Turun di Cibatu. Jalan kaki ke Limbangan, atau (kalau kebetulan ada) ikut truk pasir hingga Sasakbeusi.
Tentu saja hari itu saya dan kawan-kawan sesama bobotoh bolos sekolah. Untung tidak terlalu sering. Persib main melawan tim kota lain (pertandingan persahabatan), seperti Persebaya (Surabaya), Persis (Solo) sebulan atau dua bulan sekali. Pernah pula melawan tim luar negeri. Kalau tidak salah dari Cina.
Seingat saya selama lima tahun menjadi penonton setia Persib, tak pernah ada keributan gara-gara ulah bobotoh. Jika Persib menang, cukup bersorak-sorai di dalam stadion. Dilanjutkan pada waktu pulang oleh sebagian penonton yang merasa sugema mendapat suguhan gol-gol Persib, dengan cara mengibar-ngibarkan sapu tangan atau koran kepada setiap orang yang ditemui di jalan.
Jika kebetulan Persib kalah, cukup dengan membungkam. Stadion sepi bagai gaang katincak. Kibaran-kibaran saputangan dan koran tidak terlihat di perjalanan pulang. Semua rata-rata menunduk lesu sebagai tanda kecewa berat.
Mungkin karena para penonton yang notabene bobotoh setia Persib di masa itu, benar-benar merasa memiliki dan menghargai Persib lahir batin. Mereka datang dari berbagai tempat ti nanggerang lila caang ti nanggorek lila poek semata-mata karena rasa cinta dan sayang kepada Persib. Mereka ikut menjaga prestise dan prestasi Persib sebagai kesebelasan yang ditakuti lawan, dengan menjunjung tinggi keamanan dan ketertiban di dalam dan di luar arena pertandingan. Sedikit saja bobotoh berlaku codeka, Persib ikut ternoda. Semisal melempar benda-benda kepada pemain lawan, atau menyoraki secara keterlaluan. Jika ada bobotoh yang berbuat begitu, pasti rekan-rekan di dekatnya segera memperingatkan.
Para bobotoh era 1950-an dan 1960-an, tahu sekali, jika mereka berbuat neko-neko, justru akan membebani mental pemain. Akan mengganggu konsentrasi dan mutu permainan para kampiun bola Persib yang terkenal tenang, matang dan lincah.
Nama-nama Witarsa, Rukma, Wowo, Omo, Henky Timisela, Pietje Timisela, Ade Dana, Parhim, Rukman, Emen, Fatah Hidayat, Komar, Yus Etek, Max Timisela, disusul Aen Karnaen, Obon, hingga Nandar, Encas Tonif, sudah menyatu dengan pikiran dan perasaan para bobotoh. Sebagaimana Ajat Sudrajat, Adeng Hudaya, Wawan Karnawan, Robby Darwis, bagi generasi bobotoh tahun 1980-an.
Mereka dibiarkan tenang bermain di lapangan hijau tanpa gangguan dan tuntutan bobotoh yang berlebihan. Suguhan permainan mereka yang cantik dan menarik, tetap menjadi tujuan utama. Bukan urusan kalah atau menang. Apalagi sampai merusak dan mengganggu ketertiban umum, mengundang kebencian dan permusuhan seperti sering terjadi akhir-akhir ini.
Apakah sikap bobotoh itu terlahir dari suatu kondisi bahwa Persib adalah Persib ? Dalam arti merupakan kumpulan para pemain sepakbola dari berbagai daerah — seluruh Indonesia — yang bermain di Bandung dan mengibarkan bendera klub Bandung ? Para pemain yang namanya disebut di atas tadi, banyak yang bukan orang Bandung asli. Ada yang dari Garut, Ciamis, bahkan Ambon. Tanpa menonjolkan corak fanatisme kedaerahan – bahkan lebih cenderung menunjukkan nasionalisme NKRI — Persib telah menorehkan tinta emas dalam sejarah persepakbolaan Indonesia. Ketika para pemain Persib menjadi tulang punggung tim nasional Indonesia, pada waktu itulah PSII menapaki puncak-puncak kejayaannya. Kalau tak salah, pernah tujuh atau delapan pemain Persib berstatus pemain nasional, dan sering melanglangbuana bertanding ke luar negeri. Antara lain ke Eropa Timur. Untuk tingkat Asia, PSII sudah tak punya lawan sebanding lagi.
Bobotoh Persib sekarang dicap cenderung barbar. Holigan. Eleh meunang sarua bae amuk-amukan. Apakah hal ini timbul dari ketidakpuasan karena Persib seolah-olah tidak lagi menghargai bibit-bibit pemain lokal (daerah) dan lebih memanjakan pemain asing ? Pada bawah sadar para bobotoh menumpuk gumpalan kekesalan dan kepenasaranan yang sulit terucapkan, kecuali dengan melampiaskannya dalam bentuk hooliganisme.
Cinta kepada Persib, tapi ada sesuatu yang membuat cinta itu bercampur “dendam kesumat”. Ibarat seorang jejaka, cinta berat kepada seorang gadis, namun si buah hati “selingkuh”. Melepaskan tak mau karena berbagai pertimbangan, menerima juga rikuh karena berbagai petimbangan pula. Akhirnya napsu kapegung.
Saya ikut merasakan pula “derita hati” para bobotoh yang diibaratkan bernasib nahas seperti sang jejaka. Sehingga, saya terpaksa tak pernah lagi menyaksikan langsung Persib bertanding. Padahal sekarang, untuk beli karcis tak usah menguras sarang ayam tetangga. Pergi tak usah naik trum minyak kelapa. Entahlah nanti, setelah Persib kembali “asli”, seperti zaman Witarsa, Rukma, Wowo, Omo, Adjat, Adeng, sebagaimana dijanjikan Ketua Umum Persib baru-baru ini. Teriring salam buat para bobotoh Persib generasi terbaru. Sing sabar jeung tawekal. Hindari perbuatan yang dapat menodai citra Persib yang tetap kita cintai walaupun sekarang sedang dirundung “perselingkuhan”.***
H.Usep Romli HM, bobotoh Persib tahun 1960-an.
dari :PIKIRAN RAKYAT
bobotoh Persib telah ada sejak dulu. Paling tidak, saya mengalami sendiri akhir tahun 1959 hingga 1964. Ketika duduk di bangku Sekolah Rakyat (SR, sekarang SD) kelas 5 hingga SMP kelas 3 di Kota Kecamatan Limbangan, Garut. Setelah melanjutkan sekolah di Garut Kota (SGA, kemudian berubah nama menjadi SPG), kegiatan menjadi bobotoh Persib terhenti. Soalnya, bekal dari orang tua paspasan sekali. Tak dapat menyisihkan buat ongkos nonton Persib bertanding di Bandung.
Kalau masih di kampung, sekadar buat membeli karcis, dapat mencari ke sana kemari. Mulai dari menjual dua tiga ikat kayu bakar, hingga menjual telur ayam atau bebek. Bahkan kadang-kadang isi sarang ayam tetangga pun ikut terkuras. Maklum, usia sedang nakal-nakalnya.
Untuk ongkos kendaraan Limbangan-Bandung, tak terlalu sulit. Pergi ke Bandung, numpang truk pengangkut minyak kelapa dari Ciamis. Setiap hari Ahad pkl.11.00 truk itu menurunkan muatan drum minyak di beberapa toko dekat pasar. Jika sudah selesai, saya dan beberapa kawan seusia, segera meloncat diam-diam. Bersembunyi di sela-sela deretan drum. Sopir dan kernek baru tahu ada “penumpang gelap” jika sudah sampai ke Bandung. Atau bahkan mereka tidak tahu sama sekali. Sebab begitu truk memperlambat lajunya dan akan berhenti di kawasan Cicadas, kami sudah melenggang di trotoar.
Dari Cicadas, jalan kaki ke lapang Sidolig atau Stadion Siliwangi. Bubar sore menjelang magrib, jalan kaki lagi ke Cicadas. Menuju rumah seorang kerabat. Ikut nginap di sana. Pulang ke Limbangan esok hari (Senin pagi), naik kereta api dari Kiaracondong. Turun di Cibatu. Jalan kaki ke Limbangan, atau (kalau kebetulan ada) ikut truk pasir hingga Sasakbeusi.
Tentu saja hari itu saya dan kawan-kawan sesama bobotoh bolos sekolah. Untung tidak terlalu sering. Persib main melawan tim kota lain (pertandingan persahabatan), seperti Persebaya (Surabaya), Persis (Solo) sebulan atau dua bulan sekali. Pernah pula melawan tim luar negeri. Kalau tidak salah dari Cina.
Seingat saya selama lima tahun menjadi penonton setia Persib, tak pernah ada keributan gara-gara ulah bobotoh. Jika Persib menang, cukup bersorak-sorai di dalam stadion. Dilanjutkan pada waktu pulang oleh sebagian penonton yang merasa sugema mendapat suguhan gol-gol Persib, dengan cara mengibar-ngibarkan sapu tangan atau koran kepada setiap orang yang ditemui di jalan.
Jika kebetulan Persib kalah, cukup dengan membungkam. Stadion sepi bagai gaang katincak. Kibaran-kibaran saputangan dan koran tidak terlihat di perjalanan pulang. Semua rata-rata menunduk lesu sebagai tanda kecewa berat.
Mungkin karena para penonton yang notabene bobotoh setia Persib di masa itu, benar-benar merasa memiliki dan menghargai Persib lahir batin. Mereka datang dari berbagai tempat ti nanggerang lila caang ti nanggorek lila poek semata-mata karena rasa cinta dan sayang kepada Persib. Mereka ikut menjaga prestise dan prestasi Persib sebagai kesebelasan yang ditakuti lawan, dengan menjunjung tinggi keamanan dan ketertiban di dalam dan di luar arena pertandingan. Sedikit saja bobotoh berlaku codeka, Persib ikut ternoda. Semisal melempar benda-benda kepada pemain lawan, atau menyoraki secara keterlaluan. Jika ada bobotoh yang berbuat begitu, pasti rekan-rekan di dekatnya segera memperingatkan.
Para bobotoh era 1950-an dan 1960-an, tahu sekali, jika mereka berbuat neko-neko, justru akan membebani mental pemain. Akan mengganggu konsentrasi dan mutu permainan para kampiun bola Persib yang terkenal tenang, matang dan lincah.
Nama-nama Witarsa, Rukma, Wowo, Omo, Henky Timisela, Pietje Timisela, Ade Dana, Parhim, Rukman, Emen, Fatah Hidayat, Komar, Yus Etek, Max Timisela, disusul Aen Karnaen, Obon, hingga Nandar, Encas Tonif, sudah menyatu dengan pikiran dan perasaan para bobotoh. Sebagaimana Ajat Sudrajat, Adeng Hudaya, Wawan Karnawan, Robby Darwis, bagi generasi bobotoh tahun 1980-an.
Mereka dibiarkan tenang bermain di lapangan hijau tanpa gangguan dan tuntutan bobotoh yang berlebihan. Suguhan permainan mereka yang cantik dan menarik, tetap menjadi tujuan utama. Bukan urusan kalah atau menang. Apalagi sampai merusak dan mengganggu ketertiban umum, mengundang kebencian dan permusuhan seperti sering terjadi akhir-akhir ini.
Apakah sikap bobotoh itu terlahir dari suatu kondisi bahwa Persib adalah Persib ? Dalam arti merupakan kumpulan para pemain sepakbola dari berbagai daerah — seluruh Indonesia — yang bermain di Bandung dan mengibarkan bendera klub Bandung ? Para pemain yang namanya disebut di atas tadi, banyak yang bukan orang Bandung asli. Ada yang dari Garut, Ciamis, bahkan Ambon. Tanpa menonjolkan corak fanatisme kedaerahan – bahkan lebih cenderung menunjukkan nasionalisme NKRI — Persib telah menorehkan tinta emas dalam sejarah persepakbolaan Indonesia. Ketika para pemain Persib menjadi tulang punggung tim nasional Indonesia, pada waktu itulah PSII menapaki puncak-puncak kejayaannya. Kalau tak salah, pernah tujuh atau delapan pemain Persib berstatus pemain nasional, dan sering melanglangbuana bertanding ke luar negeri. Antara lain ke Eropa Timur. Untuk tingkat Asia, PSII sudah tak punya lawan sebanding lagi.
Bobotoh Persib sekarang dicap cenderung barbar. Holigan. Eleh meunang sarua bae amuk-amukan. Apakah hal ini timbul dari ketidakpuasan karena Persib seolah-olah tidak lagi menghargai bibit-bibit pemain lokal (daerah) dan lebih memanjakan pemain asing ? Pada bawah sadar para bobotoh menumpuk gumpalan kekesalan dan kepenasaranan yang sulit terucapkan, kecuali dengan melampiaskannya dalam bentuk hooliganisme.
Cinta kepada Persib, tapi ada sesuatu yang membuat cinta itu bercampur “dendam kesumat”. Ibarat seorang jejaka, cinta berat kepada seorang gadis, namun si buah hati “selingkuh”. Melepaskan tak mau karena berbagai pertimbangan, menerima juga rikuh karena berbagai petimbangan pula. Akhirnya napsu kapegung.
Saya ikut merasakan pula “derita hati” para bobotoh yang diibaratkan bernasib nahas seperti sang jejaka. Sehingga, saya terpaksa tak pernah lagi menyaksikan langsung Persib bertanding. Padahal sekarang, untuk beli karcis tak usah menguras sarang ayam tetangga. Pergi tak usah naik trum minyak kelapa. Entahlah nanti, setelah Persib kembali “asli”, seperti zaman Witarsa, Rukma, Wowo, Omo, Adjat, Adeng, sebagaimana dijanjikan Ketua Umum Persib baru-baru ini. Teriring salam buat para bobotoh Persib generasi terbaru. Sing sabar jeung tawekal. Hindari perbuatan yang dapat menodai citra Persib yang tetap kita cintai walaupun sekarang sedang dirundung “perselingkuhan”.***
H.Usep Romli HM, bobotoh Persib tahun 1960-an.
dari :PIKIRAN RAKYAT
Langganan:
Postingan (Atom)

